Selamat Datang DI WWW.WACANADHARMA.BLOGSPOT.COM

Wednesday, September 1, 2010

makana pemujaan tri murti { kt wiana}

Makna Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti
Jagat prastistathaa Brahma,
Wisnu palayito bhawet
Rudra sangharake, loke,
jagat sthawarajanggamah.

[Bhuwana Kosa, VII.27]
Maksudnya: Tuhan saat menciptakan disebut Dewa Brahma, saat memelihara dan melindungi ciptaanNya disebut Dewa Wisnu dan saat mengakhiri keberadaan ciptaanNya disebut Dewa Rudra. Demikianlah manusia dan seinua makhluk hidup ciptaannya tercipta, terpeithara dan kembali pada asalnya baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak.
KEBERADAAN alam semesta beserta dengan segala isinya yang ada di dalamnya adalah atas takdir Tuhan Yang Mahaesa. Alam dengan segala isinya ini tidak bisa lepas dan proses utpati, sthiti dan pralina. Lahir, hidup, dan mati atau kembali pada asal. Tuhan dalam kemahakuasaanNya mencipta (utpati), memelihara (sthiti) dan mem-pralina alam dengan segala isinya itu disebut Tri Murti. Pendirian Pura Kahyangan Tiga di tiap-tiap Desa Pakraman di Bali atas anjuran Mpu Kuturan pada abad kesebelas Masehi untuk mernuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Trti Murti.
Di Pura Desa, Tuhan dipuja sebagai pencipta (utpati) disebut Dewa Brahma. Di Pura Puseh Tuhan sebagai pemelihara (sthiti) dipuja sebagai Dewa Wisnu. Di Pura Dalem, Tuhan sebagai pemralina (pralina) dipuja sebagai Dewa Siwa atau Rudra. Utpati, sthiti dan pralina itu disebut Tri Kona sebagai kuasa Tuhan untuk mencipta, memelihara dan mempralina.
Pemujaan Tuhan Yang Mahaesa sebagai Dewa Tri Murti itu bukan untuk menyatukan sekte-sekte Hindu yang pecah. Karena para ahli arkeologi dan ahli sejarah yang pernah saya tanyakan menyataka tidak ada bukti sejarah yang kuat yang menyatakan bahwa sekte-sekte Hindu pada abad kesebelas itu pernah pecah brmusuhan. Apa lagi Raja Udayana yang berkuasa waktu itu beda sekte dengan permaisurinya Gunapriya Dharma Patni. Raja Udayana menganut Budha Mahayana sedangkan permaisurinya menganut Siwa Pasupata. Raja suami-istri itu rukun-rukun saja memimpin Bali.
Tujuan Mapu Kuturan menganjurkan pemujaan Tuhan sebagai Dewa Tri Murti saat ada Maha Sabha tokohtokoh Hindu di Pura Samuan Tiga nampaknya agar umat dalam menempuh perjalanan hidupnya berpegang pada ajaran Tri Kona dan Tri Guna dalam mengendalikan dinamika hidupnya. Ajaran Tri Kona dan Tri Guna itu diajarkan dalam sastra suci Hindu. Misalnya dalam pustaka Bhuwana Kosa. IV.33 ada dinyatakan: Tuhanlah yang menciptakan seluruh adalam dengan segala isinya, Tuhan sebagai perwujudan utpati, sthiti dan pralina yang tanpa awal, pertengahan dan akhir ini artinya semua makhluk ciptaan Tuhan tidak akan pernah tidak melalui proses utpati, stithi dan pralina.

Setiap orang yang normal berharap dalam hidupnya agar bisa mengikuti proses utpati, sthiti dan pralina itu secara baik benar dan wajar. Agar bisa menciptakan sesuatu yang patut diciptakan bendasarkan Dharma di Pujalah Tuhan sebagai Dewa Brahma. Demikian pula agar bisa memelihara dan melindungi sesuatu yang patut dilindungi untuk tegaknya Dharma dipujalah Tuhan sebagai Dewa Wisnu. Demikian juga untuk meniadakan sesuatu yang sepatutnya di-pralina yang menghambat tegaknya Dharma, Tuhan dipuja sebagai Dewa Siwa Rudra.
Utpati, sthiti dan pralina itu akan berproses dengan baik apabila manusia mampu mengendalikan Tri Gunanya yaitu Guna Sattwam, Guna Rajah dan Guna Tamah. Menurut pustaka Mastya Purana 53.Sloka 68 dan 69 ada dinyatakan bahwa: Brahma, Wisnu dan Siwa adalah Guna Awatara. Artinya Tuhan Yang Maha Esa itu turun ke Bhuwana Agung menjadi Dewa Tri Murti sebagai Guna Awatara untuk menuntun umat manusia mengendalikan Tri Gunanya.
Memuja Dewa Wisnu adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai penuntun umat manusia mengendalikan Guna Sattwam. Memuja Dewa Brahma sebagai penuntun manusia mengendalikan Guna Rajah dan memuja Dewa Siwa atau Rudra sebagai penuntun umat manusia mengendalikan Guna Tamas.
Masyarakat akan mendapatkan hidup sejahtnu lahir batin apabila dapat mengamalkan ajaran Tri Kona (utpati, sthiti dan pralina) dan ajaran Tri Guna yaitu Guna Sattwam, Guna Rajah dan Guna Tamah. Wrehaspati Tattwa 15 menyatakan sbb: “Pikiran yang ringan dan terang itu ciri orang sattwam. Yang bergerak cepat itu ciri orang rajah namanya. Yang berat dan gelap itu ciri orang yang tamah namanya”. Wrehaspati Tattwa juga menyatakan bahwa: “Kalau alam pikiran (citta) itu kuat dan seimbang dipengaruhi oleh Guna Sattwam dan Guna Rajah maka Guna Sattwam itu membuat orang berniat baik sedangkan Guna Rajah membuat orang nyata berbuat baik.
Karena itu Tri Guna yang komposisinya ideal itu akan dapat membuat orang jadi sukses. Hal ini nampaknya menjadi dasar mengapa leluhur umat Hindu di Bali membangun Pura Desa untuk memuja Dewa Brahma umumnya satu areal dengan Pura Puseh-nya untuk memuja Dewa Wisnu. Hal itu dilakukan untuk memotivasi agar umat membangun eksistensi yang seimbang dan sinergis antara Guna Rajah dengan Guna Sattwam mendukung dinamika pikiran (manah). Kalau Guna Sattwam dan Guna Rajah itu sama-sama kuat dalam diri umat mendukung gerak pikirannya maka tidak ada yang hanya berhenti berteori saja tanpa aksi apa-apa.
Sebaiknya tidak hanya kerja yang terlalu fragmatis tanpa dasar teori sebagai pengembangan nilai-nilai yang idealis dari suatu tattwa Agama. Teori dan praktek tidak boleh dibuat berdikotomi. Pustaka Tattwa Jnyana 7,8,9 menyatakan rinci ciri-ciri sifat sattwarn, rajah dan tamah tersebut.
Dengan pemujaan Tri Murti di Kahyangan Tiga sebagai media sakral pengamalan Tri Kona dan Tri Guna akan dapat mengarahkan perubahan dalam hidup ini menuju kearah yang benar, baik dan wajar tahap demi tahap. Demikian juga dengan kebudayaan beragama Hindu akan terus dinamis berubah sistem dan cara mengamalkan Dharma mengikuti hukum Tri Kona berubah sempurna sesuai dengan kebutuhan zaman. Agar dinamika penubahan senantiasa menuju perubahan yang semakin baik, benar wajar mengamalkan dharma maka salah satu sistemnya pujalah Tuhan sebagai Tri Murti di Pura Kahyangan Tiga. Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti juga banyak dikenal dalam berbagai wujud banten seperti banten Penyeneng, banten Peras, dll.
[Balipost – Minggu, 29 Agustus 2010 – ketut wiana]

No comments:

Post a Comment